Cerita ini
sebenarnya sudah lama, sekitar 5 tahun yang lalu. Mungkin gak ada salahnya saya
membagikan sedikit pengalaman bagaimana saya bisa masuk ke kampus impian. Saya
buat menjadi beberapa bagian karena akan menjadi cerita yang panjang. Oh ya, saat
ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Solo. Cerita mengenai
bagaimana saya bisa sampai diterima di perusahaan BUMN di Solo, pekerjaan yang
dilakukan apa saja, dan lingkungan kerjanya bagaimana akan dibahas dipostingan
selanjutnya ya.
Jadi begini sobat,
cerita ini saya mulai ketika saya mau mendaftar sekolah SMA. Berhubung saat itu
sekolah di daerah saya dalam sistem pendaftaran menggunakan nilai UN sebagai
acuannya, maka jelas SMA favorit akan menjadi incaran siswa kalau siswa
tersebut mengantongi nilai UN tinggi. Nilai UN yang dimaksud nilai secara
kumulatif ya, sehingga banyak siswa yang punya nilai UN tinggi ya jelas daftar
di SMA favorit. Berhubung nilai UN saya saat itu pas-pasan banget buat
masuk SMA favorit dan sudah pesimis diawal, pada akhirnya ya mau tidak mau cari
sekolah lain yang sekiranya tidak pakai nilai UN. Dulunya saya sangat kecewa
dan sedih tidak bisa masuk SMA favorit, sampai-sampai saya punya permohonan ke
Ibu untuk memasukkan saya ke SMA favorit lewat jalur belakang atau istilahnya “titip”
ke guru. Ibuku sangat jelas menolaknya karena itu sesuatu hal yang buruk
dan tidak membawa barokah saat menuntut ilmu kedepannya. Saya pun mengerti dan
memahami juga apa yang dikatakan sama Ibu saat itu dan ada benarnya juga beliau
bilang seperti itu. Akhirnya saya mencari info pendaftaran sekolah yang tidak
menggunakan nilai UN sebagai acuannya.
Pertamanya
saya tertuju pada sekolah MAN 1 Tulungagung, dimana dalam syarat pendaftarannya
menggunakan nilai raport SMP semester 1-6. Kelas yang ditawarkan adalah kelas
unggulan sehingga fasilitas kelas lengkap dan pembelajarannya menggunakan
bahasa Inggris. Saat itu saya memilih jurusan Agama. Entah apa dipikiran saya
sampai memilih jurusan tersebut, yang jelas saya bisa segera sekolah. Ketika
sudah mendaftar di sekolah tersebut dan menunggu jadwal tes, kebetulan kerabat
terdekat saya mengajar di MAN 2 Tulungagung dan menawarkan saya agar bisa melanjutkan
sekolah disana. Kerabat saya tahu kalau saya masih belum dapat sekolah. Tanpa
pikir panjang saya mencoba mendaftar di MAN 2 Tulungagung. Kelas yang
ditawarkan saat itu adalah kelas reguler dengan syarat pendaftaran menggunakan
nilai rata-rata ujian sekolah pada tahap pertama. Tahap pertama bisa dikatakan
banyak yang mendaftar karena banyak siswa yang tidak diterima di SMA kemudian
mencoba mendaftar di sekolah tersebut, padahal pada tahapan ini akan disaring
sekitar 700 calon siswa yang akan lanjut ke tahap berikutnya. Pada tahap
pertama saya lolos dan bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu tes baca tulis
Al-quran. Tes ini menurut saya mudah karena saya punya bekal waktu SD. Maklum
SD saya waktu itu SD Islam sehingga siswa harus terampil menulis, membaca, dan
menghafalkan ayat Al-qur’an. Alhamdulillah pada tahapan tes baca tulis
Al-qur’an saya lolos. Tahap terakhir adalah wawancara wali murid. Saya rasa wawancara
wali murid ini hanya sekedar mempertemukan wali murid dengan kepala sekolah
apakah bersedia jika dana yang dipersiapkan untuk masuk ke sekolah tersebut
sesuai dengan harapan wali murid. Ibu saya sudah setuju dengan dana tersebut
supaya saya bisa cepat sekolah. Akhirnya pun saya diterima di MAN 2
Tulungagung. Senang rasanya bisa dapat sekolah walau saya dapat sekolah semi
islami hehe. Lalu bagaimana yang di MAN 1 Tulungagung? Saya tinggalkan karena
dilihat dari track record MAN terbaik dan favorit di Tulungagung ya MAN
2 Tulungagung. Jadi, tidak salah juga saat itu saya memilih sekolah tersebut.
Memasuki
kelas X tentu dapat lingkungan dan teman baru. Tidak hanya itu saja, saya
selalu bersemangat ketika belajar di kelas apalagi dapat mata pelajaran baru
seperti Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Kimia, Fisika, Bilologi, Akuntansi,
Muhadatsah, Bahasa Arab, dan Conversation. Kalau di SMA mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) dibahas secara umum atau ya hanya satu mata
pelajaran itu saja. Berbeda dengan di MAN, mata pelajaran PAI dipecah menjadi
disiplin ilmu atau pembahasannya lebih mendalam dan spesifik lagi, contohnya
Fiqih, Aqidah Akhlak, dan Al-qur’an Hadist, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Mata pelajaran tersebut sebetulnya sudah tidak asing banget buat saya karena
waktu SD saya juga mempelajarinya, yang jelas materinya akan lebih mendalam
lagi dibandingkan tingkatan sebelumnya. Saat duduk di bangku kelas X, mata
pelajaran yang paling saya suka adalah Kimia dan Akuntansi. Bagi saya Kimia itu
seperti pelajaran yang baru dan mudah dipahami, mungkin ini karena faktor guru
dalam menyampaikan materi. Begitu juga Akuntansi, pelajaran yang serba
menghitung ini juga membuat saya jatuh hati terlebih pada saat awal
pembelajaran dijelaskan bahwa prospek kerja lulusan Akuntansi itu banyak dicari
oleh perusahaan. Dalam pikiran saya “Wah, berarti gajinya gede dong. Kerja
di perusahaan bikin laporan keuangan, pasti keren nih. Pantes aja banyak perusahaan
nyari lulusan Akuntansi.”
Mengenai
latar belakang orang tua, saya awalnya dari keluarga yang mampu secara
finansial. Rumah yang layak dan mobil pun punya karena pekerjaan orang tua saya
adalah usaha toko emas di daerah pasar Trenggalek. Saat orang tua saya dilanda
masalah dengan berbagai pihak, akhirnya orang tua saya bangkrut sampai rumah,
mobil, aset lain, dan bahkan usaha orang tua saya habis. Kalau ingat itu
rasanya sedih sekali, bahkan nangis gak bisa menerima keadaan. Akhirnya orang
tua saya beralih profesi menjadi “terima barang emas” di Kediri. Perjalanan
Tulungagung ke Kediri memakan waktu kurang lebih satu jam atau jaraknya 30 km,
kalau PP ya 60 km itupun belum tentu bawa penghasilan. Pekerjaan ini bisa kalian
temui di pasar dan pekerjaan ini kadang dapat barang emas kadang gak dapat sama
sekali. Kadang orang tua saya pernah dapat BOM atau barang emas palsu.
Kebutuhan makan untuk setiap hari kadang susah sekali, belum lagi tanggungan
untuk biaya sekolah saya, adik, kebutuhan adik saya yang masih kecil, dan rumah
kontrak.
Komentar
Posting Komentar