Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita Meraih Kampus Impian (Bagian 1)


Cerita ini sebenarnya sudah lama, sekitar 5 tahun yang lalu. Mungkin gak ada salahnya saya membagikan sedikit pengalaman bagaimana saya bisa masuk ke kampus impian. Saya buat menjadi beberapa bagian karena akan menjadi cerita yang panjang. Oh ya, saat ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Solo. Cerita mengenai bagaimana saya bisa sampai diterima di perusahaan BUMN di Solo, pekerjaan yang dilakukan apa saja, dan lingkungan kerjanya bagaimana akan dibahas dipostingan selanjutnya ya.

Jadi begini sobat, cerita ini saya mulai ketika saya mau mendaftar sekolah SMA. Berhubung saat itu sekolah di daerah saya dalam sistem pendaftaran menggunakan nilai UN sebagai acuannya, maka jelas SMA favorit akan menjadi incaran siswa kalau siswa tersebut mengantongi nilai UN tinggi. Nilai UN yang dimaksud nilai secara kumulatif ya, sehingga banyak siswa yang punya nilai UN tinggi ya jelas daftar di SMA favorit. Berhubung nilai UN saya saat itu pas-pasan banget buat masuk SMA favorit dan sudah pesimis diawal, pada akhirnya ya mau tidak mau cari sekolah lain yang sekiranya tidak pakai nilai UN. Dulunya saya sangat kecewa dan sedih tidak bisa masuk SMA favorit, sampai-sampai saya punya permohonan ke Ibu untuk memasukkan saya ke SMA favorit lewat jalur belakang atau istilahnya “titip” ke guru. Ibuku sangat jelas menolaknya karena itu sesuatu hal yang buruk dan tidak membawa barokah saat menuntut ilmu kedepannya. Saya pun mengerti dan memahami juga apa yang dikatakan sama Ibu saat itu dan ada benarnya juga beliau bilang seperti itu. Akhirnya saya mencari info pendaftaran sekolah yang tidak menggunakan nilai UN sebagai acuannya.

Pertamanya saya tertuju pada sekolah MAN 1 Tulungagung, dimana dalam syarat pendaftarannya menggunakan nilai raport SMP semester 1-6. Kelas yang ditawarkan adalah kelas unggulan sehingga fasilitas kelas lengkap dan pembelajarannya menggunakan bahasa Inggris. Saat itu saya memilih jurusan Agama. Entah apa dipikiran saya sampai memilih jurusan tersebut, yang jelas saya bisa segera sekolah. Ketika sudah mendaftar di sekolah tersebut dan menunggu jadwal tes, kebetulan kerabat terdekat saya mengajar di MAN 2 Tulungagung dan menawarkan saya agar bisa melanjutkan sekolah disana. Kerabat saya tahu kalau saya masih belum dapat sekolah. Tanpa pikir panjang saya mencoba mendaftar di MAN 2 Tulungagung. Kelas yang ditawarkan saat itu adalah kelas reguler dengan syarat pendaftaran menggunakan nilai rata-rata ujian sekolah pada tahap pertama. Tahap pertama bisa dikatakan banyak yang mendaftar karena banyak siswa yang tidak diterima di SMA kemudian mencoba mendaftar di sekolah tersebut, padahal pada tahapan ini akan disaring sekitar 700 calon siswa yang akan lanjut ke tahap berikutnya. Pada tahap pertama saya lolos dan bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu tes baca tulis Al-quran. Tes ini menurut saya mudah karena saya punya bekal waktu SD. Maklum SD saya waktu itu SD Islam sehingga siswa harus terampil menulis, membaca, dan menghafalkan ayat Al-qur’an. Alhamdulillah pada tahapan tes baca tulis Al-qur’an saya lolos. Tahap terakhir adalah wawancara wali murid. Saya rasa wawancara wali murid ini hanya sekedar mempertemukan wali murid dengan kepala sekolah apakah bersedia jika dana yang dipersiapkan untuk masuk ke sekolah tersebut sesuai dengan harapan wali murid. Ibu saya sudah setuju dengan dana tersebut supaya saya bisa cepat sekolah. Akhirnya pun saya diterima di MAN 2 Tulungagung. Senang rasanya bisa dapat sekolah walau saya dapat sekolah semi islami hehe. Lalu bagaimana yang di MAN 1 Tulungagung? Saya tinggalkan karena dilihat dari track record MAN terbaik dan favorit di Tulungagung ya MAN 2 Tulungagung. Jadi, tidak salah juga saat itu saya memilih sekolah tersebut.

Memasuki kelas X tentu dapat lingkungan dan teman baru. Tidak hanya itu saja, saya selalu bersemangat ketika belajar di kelas apalagi dapat mata pelajaran baru seperti Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Kimia, Fisika, Bilologi, Akuntansi, Muhadatsah, Bahasa Arab, dan Conversation. Kalau di SMA mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dibahas secara umum atau ya hanya satu mata pelajaran itu saja. Berbeda dengan di MAN, mata pelajaran PAI dipecah menjadi disiplin ilmu atau pembahasannya lebih mendalam dan spesifik lagi, contohnya Fiqih, Aqidah Akhlak, dan Al-qur’an Hadist, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Mata pelajaran tersebut sebetulnya sudah tidak asing banget buat saya karena waktu SD saya juga mempelajarinya, yang jelas materinya akan lebih mendalam lagi dibandingkan tingkatan sebelumnya. Saat duduk di bangku kelas X, mata pelajaran yang paling saya suka adalah Kimia dan Akuntansi. Bagi saya Kimia itu seperti pelajaran yang baru dan mudah dipahami, mungkin ini karena faktor guru dalam menyampaikan materi. Begitu juga Akuntansi, pelajaran yang serba menghitung ini juga membuat saya jatuh hati terlebih pada saat awal pembelajaran dijelaskan bahwa prospek kerja lulusan Akuntansi itu banyak dicari oleh perusahaan. Dalam pikiran saya “Wah, berarti gajinya gede dong. Kerja di perusahaan bikin laporan keuangan, pasti keren nih. Pantes aja banyak perusahaan nyari lulusan Akuntansi.”

Mengenai latar belakang orang tua, saya awalnya dari keluarga yang mampu secara finansial. Rumah yang layak dan mobil pun punya karena pekerjaan orang tua saya adalah usaha toko emas di daerah pasar Trenggalek. Saat orang tua saya dilanda masalah dengan berbagai pihak, akhirnya orang tua saya bangkrut sampai rumah, mobil, aset lain, dan bahkan usaha orang tua saya habis. Kalau ingat itu rasanya sedih sekali, bahkan nangis gak bisa menerima keadaan. Akhirnya orang tua saya beralih profesi menjadi “terima barang emas” di Kediri. Perjalanan Tulungagung ke Kediri memakan waktu kurang lebih satu jam atau jaraknya 30 km, kalau PP ya 60 km itupun belum tentu bawa penghasilan. Pekerjaan ini bisa kalian temui di pasar dan pekerjaan ini kadang dapat barang emas kadang gak dapat sama sekali. Kadang orang tua saya pernah dapat BOM atau barang emas palsu. Kebutuhan makan untuk setiap hari kadang susah sekali, belum lagi tanggungan untuk biaya sekolah saya, adik, kebutuhan adik saya yang masih kecil, dan rumah kontrak.

Komentar